Wednesday, March 8, 2023

[PAMANIS FEBRUARI] Tulisan Isman Ibrahim, S.Pd SMP Pataruman

 

“Katakan Tidak Pada Child Free”
Oleh : Isman Ibrahim, S.Pd


Memiliki kesempatan untuk mempunyai anak dan keturunan merupakan suatu anugerah dari Allah SWT. Hadirnya sikecil ditengah tengah keluarga menjadi simbol kebahagiaan dan puncak dari rasa cinta pasangan yang telah menikah. Hadirnya keturunan yang dapat meneruskan segala usaha/upaya dan apa yang dimiliki untuk generasi selanjutnya, mewarisi semua yang telah diusahakan oleh orangtua dan menjadi harapan untuk perbaikan kualitas suatu keluarga menjadi harapan atas lahirnya seorang anak. Zaman dulu kita sering mendengar istilah banyak anak banyak rejeki dan terlihat oleh banyaknya anaknya yang dimiliki oleh orang tua jaman dahulu. Dengan pola asuh yang terbatas dengan dorongan tingkat taraf kehidupan yang relatif terjangkau karena profesi kebanyakan keluarga saat itu sebatas bertani dan berdagang.

Namun dilain sisi, seiring berkembangnya dan majunya pemikiran generasi sekarang ini. Memiliki anak keturunan menjadi hal yang tidak hanya membahagiakan namun juga membuat cemas para orang tua. Karena bukan asal hidup saja tapi penunjang kehidupan itu sendiri harus selalu terjamin untuk sang buah hati.

Mahalnya biaya hidup, mahalnya pendidikan dan mahalnya modal untuk menumbuh kembangkan seorang anak membuat generasi saat ini berpikir ulang untuk memiliki seorang anak. Muncullah suatu paham bertajuk "Child Free" dimana pasangan menikah/non married memilih untuk tidak memiliki anak karena anak itu dianggap sebagai beban. Egoisme yang mereka pahami sudah tidak menerima keyakinan bahwa anak itu anugerah dan malah menganggap anak sebagai beban. Tangis anak membuat mereka risih, mengajari anak dianggap terlalu merepotkan, anak dianggap mahal dan menganggap apa yang dirasa cukup mesti tak ada anak, mereka merasa bahagia meski mereka tak berpikir bagaimana masa tua mereka habiskan jika tak ada anak keturunan nantinya.

Kurang pekanya lembaga yang menangani masalah keluarga dan kurangnya kesiapan serta tidak adanya edukasi berkaitan dengan persiapan penataan keluarga baru juga memperburuk keadaan tersebut. Pengalaman pribadi generasi saat ini yang berasal dari keluarga tak sempurna atau broken home dengan menjadi saksi sekelumit permasalah orang tua.  Child free/tanpa anak ini menjadi isu krusial yang wajib diperhatikan oleh para edukator atau penyelenggara pendidikan di sekolah. Dimana mereka berkewajiban memberikan pemahaman bahwa memiliki anak setelah menikah dalam keluarga merupakan tugas pokok sebagai manusia untuk mempertahankan eksistensinya dimuka bumi ini. Menjalankan tugas manusia dari sang pencipta sebagai Khalifah dimuka bumi. Bumi ini bukan milik satu generasi saja. Menikah saja tanpa memiliki anak tidak bisa dikatakan sempurna kebahagiannya. Sudah jadi naluri makhluk hidup termasuk manusia untuk bereproduksi.

Dinegara negara maju paham Child free ini menjadi trending digenerasi muda saat ini terutama mereka yang baru menikah dan mulai berumah tangga. Namun hal ini menjadi keprihatinan khusus pihak pemerintahan. Jepang sebagai contoh, setiap tahunnya tingkat pengambil Alihan rumah dari kepemilikan warga menjadi milik negara karena pemilik sebelumnya meninggal dan tidak ada ahli waris meningkat tajam dari tahun ke tahun. Ini menunjukan bahwa tingginya angka keluarga tanpa anak juga dari tahun ke tahun semakin tinggi. Hal tersebut juga berbanding lurus dengan tingkat penutupan sekolah sekolah di negara tersebut dikarenakan tingkat pendaftaran siswa baru disekolah sekolah tersebut yang semakin menurun dari tahun ke tahun.

Hal ini menjadi salah satu hal yang menarik bagi saya untuk menjadi topik pembahasan dalam sesi bimbingan dan diskusi dilingkungan sekolah. Apa yang terjadi di Jepang tak perlu terjadi pula dinegara kita. Mari kita tumbuhkan paham bahwa anak bukanlah suatu beban melainkan anugerah dan amanat yang tidak diberikan oleh Allah kepada semua pasangan yang telah menikah. Memperlihatkan kondisi pasangan berusia tua yang tak memiliki anak dan membandingkan hal tersebut dengan keluarga sempurna yang terdiri dari ayah, ibu dan anak untuk bersama sama memanen pahala dari Allah untuk menuntaskan kewajiban sebagai muslim untuk membina keluarga yang taat. 

0 comments:

Post a Comment