“PENTINGNYA LITERASI KEUANGAN DI SEKOLAH”
Oleh : Isman Ibrahim, S.Pd
Pendidikan wajib di sekolah Indonesia selalu
berkembang seiring majunya teknologi dan globalisasi. Dimana dulu sekolah
bertujuan agar masyarakat terbebas dari belenggu buta huruf, kini sudah
mengarah kepada bagaimana menciptakan lulusan manusia yang siap kerja. Seorang
anak dikatakan lulus jika sudah siap menghadapi dunia kerja dengan modal skill
yang mereka pelajari disekolah. Tumbuhnya sekolah sekolah vokasi/kejuruan di
Indonesia beriringan dengan tingginya minat masyarakat akan keahlian yang
dianggap sangat dibutuhkan oleh dunia kerja yang bertemu dengan tuntutan
industri yang menginginkan calon pekerja yang siap kerja.
Seorang siswa bisa dengan mudah memilih sekolah
lanjutan disesuaikan dengan bakat dan minat yang bersangkutan. Mereka bisa
dengan nyaman dan fokus dalam mengembangkan kemampuan mereka guna bisa bersaing
dengan yang lain di dunia kerja nantinya.
Dilain sisi mereka yang sudah berkerja, mulai
mendapatkan pundi pundi uang dari hasil keringatnya memasuki tahapan kehidupan
yang berbeda. Kebanyakan kasus mereka tidak dapat mengontrol pengeluran hasil
bekerja dan terjebak dalam kehidupan konsumtif yang mencekik. Tak jarang para
pekerja ini berhutang dan terjerat pinjaman hanya karena ingin memuaskan hasrat
mereka untuk membeli barang. Hanya segelintir orang saja yang mampu menahan
diri dari situasi tersebut meski sering mendapatkan tekanan dari lingkungan dan
dianggap sebagai orang yang tidak berkemauan.
Orientasi pemikiran bahwa hari ini kita sekolah
untuk mendapatkan pekerjaan dan gajih yang baik nantinya tidak diikuti dengan
pendidikan keuangan bagaimana kita bersikap setelah mendapatkan uang dari hasil
kerja inilah yang kurang disadari oleh lembaga pendidikan dan bahkan lingkungan
keluarga. Padahal, kurangnya literasi keuangan yang diajarkan disekolah inilah
dapat menimbulkan hal buruk yang berimbas terhadap kinerja para pekerja itu
sendiri. Seringnya para pekerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain
(kutu loncat) bermula dari ketidak puasan mereka akan upah yang diterima
meskipun sebetulnya sudah lebih dari selayaknya. Permasalahan dalam keluarga
para pekerja juga sering kali terjadi akibat dari kurang bijaknya pengelolaan
dalam keuangan dalam keluarga. kejadian buruk seperti boros dan terjebak
investasi bodong sering kali terjadi pada pekerja yang kurang memahami literasi
keuangan tersebut.
Menanamkan satu pilar penting dalam pengelolaan
keuangan pada pendidikan sangat diperlukan untuk menciptakan generasi siap
kerja yang juga siap mengelola uang yang didapat dari bekerja dan menjalani
kehidupan yang lebih baik. Boros itu penyakit, sederhana itu pilihan.



0 comments:
Post a Comment