Sunday, November 6, 2022

[PAMANIS OKTOBER] Tulisan Isman Ibrahim, S.Pd Pembimbing TMBB SMP Pataruman

 “PENTINGNYA LITERASI KEUANGAN DI SEKOLAH”

Oleh : Isman Ibrahim, S.Pd

Pendidikan wajib di sekolah Indonesia selalu berkembang seiring majunya teknologi dan globalisasi. Dimana dulu sekolah bertujuan agar masyarakat terbebas dari belenggu buta huruf, kini sudah mengarah kepada bagaimana menciptakan lulusan manusia yang siap kerja. Seorang anak dikatakan lulus jika sudah siap menghadapi dunia kerja dengan modal skill yang mereka pelajari disekolah. Tumbuhnya sekolah sekolah vokasi/kejuruan di Indonesia beriringan dengan tingginya minat masyarakat akan keahlian yang dianggap sangat dibutuhkan oleh dunia kerja yang bertemu dengan tuntutan industri yang menginginkan calon pekerja yang siap kerja.

Seorang siswa bisa dengan mudah memilih sekolah lanjutan disesuaikan dengan bakat dan minat yang bersangkutan. Mereka bisa dengan nyaman dan fokus dalam mengembangkan kemampuan mereka guna bisa bersaing dengan yang lain di dunia kerja nantinya.

Dilain sisi mereka yang sudah berkerja, mulai mendapatkan pundi pundi uang dari hasil keringatnya memasuki tahapan kehidupan yang berbeda. Kebanyakan kasus mereka tidak dapat mengontrol pengeluran hasil bekerja dan terjebak dalam kehidupan konsumtif yang mencekik. Tak jarang para pekerja ini berhutang dan terjerat pinjaman hanya karena ingin memuaskan hasrat mereka untuk membeli barang. Hanya segelintir orang saja yang mampu menahan diri dari situasi tersebut meski sering mendapatkan tekanan dari lingkungan dan dianggap sebagai orang yang tidak berkemauan.

Orientasi pemikiran bahwa hari ini kita sekolah untuk mendapatkan pekerjaan dan gajih yang baik nantinya tidak diikuti dengan pendidikan keuangan bagaimana kita bersikap setelah mendapatkan uang dari hasil kerja inilah yang kurang disadari oleh lembaga pendidikan dan bahkan lingkungan keluarga. Padahal, kurangnya literasi keuangan yang diajarkan disekolah inilah dapat menimbulkan hal buruk yang berimbas terhadap kinerja para pekerja itu sendiri. Seringnya para pekerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain (kutu loncat) bermula dari ketidak puasan mereka akan upah yang diterima meskipun sebetulnya sudah lebih dari selayaknya. Permasalahan dalam keluarga para pekerja juga sering kali terjadi akibat dari kurang bijaknya pengelolaan dalam keuangan dalam keluarga. kejadian buruk seperti boros dan terjebak investasi bodong sering kali terjadi pada pekerja yang kurang memahami literasi keuangan tersebut.

Menanamkan satu pilar penting dalam pengelolaan keuangan pada pendidikan sangat diperlukan untuk menciptakan generasi siap kerja yang juga siap mengelola uang yang didapat dari bekerja dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Boros itu penyakit, sederhana itu pilihan.


0 comments:

Post a Comment