Sunday, December 11, 2022

[PAMANIS NOVEMBER] Tulisan Rena Yuliana, S.Pd Pembimbing TMBB SMP Pataruman

 “Sepatu Butut”

Entah sudah berapa kali aku mengatakan padanya untuk mengganti sepatu bututnya itu. Kalau sepatu itu masih layak pakai sih mungkin tidak apa-apa, tetapi sepatu itu sudah kelihatan sangat kumal, jauh dari kategori layak pakai. Walaupun orang tua kami bukanlah orang yang kaya, tetapi kurasa mereka masih mampu membelikan Andi sebuah sepatu baru yang lebih layak pakai.

Entah mengapa pula, hanya aku yang selalu memperhatikan sepatu bututnya Andi. Sepatu butut itu begitu menggangu pandanganku.

Orang tua kami tidak pernah protes kalau Andi mengenakan sepatu butut itu lagi. Pagi ini kami akan berangkat sekolah. Lagi-lagi sepatu butut itu lagi yang kuperhatikan. Tidak ada yang lain yang kuperhatikan dari Andi, aku jadi malas bila berjalan dengannya. Aku malu bila harus berjalan

dengannya, seperti berjalan dengan seorang gembel.

Sepatu butut itu begitu mengganggu pikiranku Kenapa Andi tidak minta sepatu baru saja biar keren seperti teman-temanya, si Ivan dengan sepatu ketsnya, atau seperti Dodi dengan sepatu sportnya?

Di suatu malam, aku berpikir untuk menyingkirkan sepatu butut itu. Aku berencana membuangnya pada Sabtu malam, karena kutahu ia akan mencucinya pada hari Minggu. Jadi kalau pada hari Minggu ia tidak menemukannya, masih ada kesempatan untuk membeli yang baru sehingga ia masih bisa masuk di hari Seninnya.

Untuk membuang sepatu butut tentu saja tidak memerlukan rencana yang rumit, cukup sederhana saja pasti aku bisa melakukannya, hanya tinggal menunggu Andi tidur di malam hari, dan kemudian aku tinggal menjalankan misinya. Hari yang kunantikan pun tiba, segera aku bersiap menjalankan misiku. Kulihat Andi sedang tidak ada di rumah. Dengan hati yang merasa gelisah, aku beranikan diri untuk mengambil sepatu itu.

Setelah berhasil mengambil sepatu itu, segera aku pergi dari rumah berniat untuk membuang sepatunya. Tapi diperjalanan aku berpikir, apakah yang aku lakukan ini benar? Bagaimana nanti perasaan Andi saat tahu aku membuang sepatunya? Kenapa dia sangat sayang sekali dengan sepatunya itu? Apa yang istimewa dari sepatu itu ya kira-kira? Aku jadi bingung dan bimbang dengan semua pertanyaan itu?

Langkahku terhenti saat aku memutuskan untuk menyembunyikannya saja. Dan melihat bagaimana nanti reaksi Andi saat mengetahui sepatunya tidak ada. Akhirnya aku kembali ke rumah dan menyembunyikan sepatu itu di kolong tempat tidurku.

Keesokan harinya, seperti biasa Andi akan mencuci sepatunya. Tapi ia tak menemukan sepatunya itu, terus dia mencari sampai ke sekeliling rumah. Menanyakan ke semua orang rumah, dimana sepatunya. Ibu menyarankan untuk mencarinya dulu dengan teliti, sampai Andi bertanya padaku. Sepintas aku gugup saat ditanya melihat sepatunya atau tidak. Tapi dengan segera ku jawab tidak sambil aku berlalu pergi ke dapur untuk sarapan.

Terlihat Andi sedih dan gelisah tak menemukan sepatunya, dia hanya terdiam di teras rumah. Aku beranikan diri bertanya pada ibu, kenapa dia seperti itu dengan sepatu bututnya? Ibu bercerita, bahwa sepatu itu ia dapatkan dengan uangnya sendiri. Makanya dia sangat sayang dengan sepatunya itu.

Aku beranikan diri mendekati Andi, ku beri saran padanya untuk membeli sepatu baru saja. Tapi ia malah sedih dan masuk ke kamarnya. Sampai sore dia tidak terlihat keluar dari kamar.

Ibu khawatir melihat sikap Andi yang tidak keluar kamar dan belum makan sampai malam begini. Aku pun jadi merasa bersalah, dan ingin mengembalikan sepatunya. Tapi aku coba untuk bicara jujur pada ibu dan berdiskusi apa yang terbaik.

Aku coba mendekati ibu yang sedang duduk menonton TV di ruang keluarga. Setelah menceritakan semuanya kepada ibu, aku malah menjadi takut dan sangat merasa bersalah. Tapi dengan tenang ibu mengajakku untuk pergi membeli sepatu baru. Aku berniat membelikan sepatu itu dengan uang tabunganku sebagai hadiah ulang tahunnya minggu depan.

Sesampainya di rumah, bergegas aku mencari Andi dan berniat langsung memberikan sepatu tersebut. Tapi aku malah punya ide untuk memasukkan sepatu butut itu di dalam dus sepatu barunya. Sebagai permintaan maaf dan ucapan selamat ulang tahun.

Ku ketuk pintu kamarnya tapi dia tidak menjawab ataupun membuka pintu kamarnya. Aku menjadi khawatir dan makin merasa bersalah. Langsung ku buka saja pintu kamarnya, terlihat kamar yang gelap dan dia tak terlihat di dalam kamar. Setelah lampu di nyalakan, ternyata Andi tidak ada di kamarnya. Aku lari menghampiri ibu untuk memberitahunya kalau Andi tidak ada dikamarnya. Aku dan ibu malah panik mencari Andi sambil memanggil namanya.

Kebetulan hari ini, hanya ada aku, ibu dan Andi di rumah. Sedangkan ayah, sedang tugas luar di luar kota. Sebelum kami pergi tadi, tidak sempat melihat dulu, apakah Andi ada d kamarnya atau tidak. Tak lama kemudian, setelah aku dan ibu mencari di dalam rumah, kamu pun keluar rumah untuk mencarinya. Begitu kagetnya kami, setelah mengetahui kalo Andi ada di bale belakang rumah sedang tertidur.

Aku dekati dia dan mencoba membangunkannya. Setelah dia bangun, aku berikan tas yang ada sepatu barunya. Dia terheran-heran melihat tingkahku, yang sebelumnya cuek padanya. Tapi sekarang begitu perhatian, sampai membelikan sepatu baru segala.

Begitu dia membuka kotaknya, dia kaget melihat ada sepatu bututnya itu d dalamnya. Dia terlihat marah tapi juga senang, setelah melihatnya. Senang kalo sepatunya itu sudah kembali padanya, tapi juga marah kenapa ada d alu sepatunya. Dia bertanya, apa maksudnya?

Aku meminta dia untuk menyimpan sepatu bututnya itu sebagai kenangan dan dipakai sepatu barunya untuk ke sekolah. Tapi Andi malah terdiam tanpa berkata apa-apa. Aku meminta maaf karena sudah membuatnya khawatir. Dia akhirnya bercerita kalau dia sangat sayang dengan sepatunya itu, dan akan menyimpannya dengan baik untuk kenangan.

Pada hari senin, kami berangkat sekolah bersama. Ku lihat dia memakai sepatu barunya, dan menyimpan sepatu bututnya di lemari. Tapi sesekali ia akan memakainya lagi katanya, kami pun tertawa bersama sambil berjalan menuju sekolah.


0 comments:

Post a Comment