Sunday, December 11, 2022

[PAMANIS NOVEMBER] Tulisan Isman Ibrahim M., S,Pd Pembimbing TMBB SMP Pataruman

 “Peranan Orang Tua Dalam Pendidikan Dasar Islami”

Zaman sekarang lembaga pendidikan sudah banyak dan dekat dengan lingkungan kita. Dari mulai sekolah umum, swasta dan juga sekolah yang berorientasikan keagamaan hadir untuk memenuhi kebutuhan ilmu. Beragam metode pengajaran, materi bidang keilmuan dan bahkan kurikulum muncul dan saling bersaing untuk mendapatkan calon siswa dipasar masyarakat.

            Namun tahukah anda guru pertama kita? Bukanlah guru di sekolah dasar bukan pula guru ngaji dan bukan pula guru TK/PAUD. Guru pertama dalam keluarga adalah orangtua. Ibu yang mengajarkan kita berbicara. Ayah yang mengajarkan kita ilmu bertahan hidup dan mencari rejeki halal bagi keluarganya. Masih ingat dengan istilah Ibu adalah Madrasah pertama bagi anaknya? Karena seorang anak pertama kali diajari berbicara dan mengenal lingkungan sekitarnya oleh ibunya. Munculnya istilah Bahasa Ibu untuk merujuk pada bahasa yang kita pakai sehari hari berkomunikasi diindikasikan diajarkan oleh ibunya. Itulah mengapa kefasihan dan logat serta pemilihan kosa kata pada anak sangat dipengaruhi oleh gaya bahasa yang digunakan oleh ibunya. Pengenalan huruf, angka dan kegiatan kegiatan sederhana diajarkan oleh ibu.

            Dilain sisi apakah tugas ayah hanya sebatas menghadirkan hidangan terbaik diatas meja makan keluarganya? Sebetulnya menghadirkan pendidikan terbaik bagi keluarganya: anak dan istrinya adalah kewajiban sang ayah. Kita diingatkan akan hal ini oleh sosok Lukman dalam AL – Qur’an yang bahkan suratnya pun dinamai dengan sosok yang mulia ini. Ia bukan seorang nabi tapi mendapat gelar Al Hakim, bijaksana. Lukman berpesan pada anaknya secara tegas bahwa pendidikan pertama yang harus didapatkan seorang anak adalah keteguhan iman. Bagaimana Lukman menasihati anaknya untuk tidak berbuat Syirik kepada Allah dan menyebut bahwa perbuatan semacam itu adalah dosa yang sangat besar. Lukman juga berpesan agar anaknya berbakti kepada orangtuanya terutama Ibunya yang telah mengandung sembilan bulan dalam keadaan lemah dan melemahkan.

            Dari pemaparan diatas perlu kita simpulkan bahwa pola pendidikan dasar dalam Islam berawal dari mencari sosok pasangan hidup dalam berkeluarga, bagaimana kriterianya bukan cantik atau rupawan melainkan bisakah seorang calon ibu menjadi rolemodel/madrasah ula/ sekolah pertama bagi anaknya. Dalam pemaparan diatas pula dijelaskan bahwa calon seorang ayah terbaik bukanlah yang banyak hartanya melainkan sosok orang yang mampu menghadirkan rasa aman, nyaman, dan mampu memimpin dan membimbing kelaurganya untuk selalu meneguhkan iman dan taqwa.

            Penulis mengambil tema ini untuk menjadi bahan renungan bagi anak anak yang beranjak remaja khususnya siswa siswi di Sekolah Menengah Pertama yang mulai memasuki pubertas. Pendidikan Pra-Nikah memang belum menjadi materi pokok dari suatu pelajaran disekolah dan hanya menjadi lembaga yang kurang aktif di bawah kementerian agama saja. Namun hal tersebut sangat penting untuk dihadirkan dalam suasana bimbingan dan konseling disekolah karena generasi terbaik dimulai dengan keluarga yang masing masing anggota keluarganya mengerti tugasnya sehingga tercipta keluarga surgawi.


0 comments:

Post a Comment