Friday, February 3, 2023

[PAMANIS JANUARI] Tulisan Isman Ibrahim, S.Pd SMP Pataruman

 

"Indonesia Darurat Padi"
Sebuah kritik dari pemakan nasi

Negara Zamrud Khatulistiwa ini memiliki mayoritas penduduk memakan nasi dibandingkan roti atau gandum. Negara kita dijuluki sebagai tanah surga. Padi subur tumbuh dengan mudahnya. Seperti kebanyakan negara Asia tenggara lainnya Indonesia masih mempertahankan kultur makan nasi sebagai makanan pokoknya. Semahal apapun sepertinya kita akan tetap berusaha membeli beras sebagai bahan pokok meskipun nanti mungkin harganya setara emas.

Dilain sisi, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perkembangan pembangunan yang sangat pesat. Sayangnya perencanaan pembangunan dan penataan kota untuk mewujudkan Indonesia maju tidak direncanakan dengan matang. Banyaknya peralihan fungsi pada wilayah penghasil padi menjadi kawasan industri dan perumahan semakin pesat.

Tingginya harga pupuk, mahalnya upah tenaga para pekerja dan semakin menurunnya minat pada profesi petani padi turut andil dalam pendukungan pemerosotan ladang sawah. Petani merupakan salah satu profesi yang paling tidak diminati oleh kaum muda saat ini. Meskipun mereka berstatus anak petani. Para sarjana lulusan ilmu pertanian pun angka lulusannya yang terjun langsung menjadi petani dari tahun ketahun semakin turun. Mereka lebih berminat bekerja atau mendaftar jadi PNS. Perlu adanya suatu program yang mewadahi para sarjana lulusan pertanian untuk merealisasikan ilmu dengan dukungan penuh dari pemerintah. Misalnya, bisa saja para lulusan sarjana pertanian ini diangkat menjadi CPNS atau honorer jika mau mengelola sebidang tanah disuatu daerah jika dalam tempo beberapa waktu ia berhasil mewujudkan suplus padi yang baik ia dapat diangkat menjadi pembina atau PNS di kementerian pertanian. Tentu dengan bekerja sebagai petani. Dengan program tersebut mereka yang berstatus petani PNS memiliki kepastian tunjangan sehingga fokus mereka pada surplus hasil panen menjadi realistis yang berimbas pada ketersedian beras yang melimpah. Dan dengan didukungnya pola penyaluran hasil panen yang baik hal itu semakin untuk diwujudkan. Hal berani seperti ini perlu diangkat untuk mengurangi pengikisan alih profesi dari para petani yang berakibat langsung pada hasil padi.

Tidak dipungkiri sebab sebab diatas sangat berpengaruh terhadap harga beras yang semakin tinggi. Ironi memang untuk menstabilkan harganya terkadang negara yang disebut tanah surga ini impor beras dari negara tetangganya. Namun mau sampai kapan ini terus berlanjut? 

0 comments:

Post a Comment